Friday, October 7, 2011

Backpacking Day 6: 2 Bule Tampan, Hujan ke-3, dan 4 Pulau di Delta Mekong

Rainy morning at District 1, HCMC
Ah, hujan lagi pagi ini. Menyenangkan sih, bangun tidur di sebuah kamar di Ho Chi Minh City (HCMC), dan mendapati hujan saat melongokkan kepala. Ini adalah hujan ketiga yang menyambut kami di negeri orang. Sebelumnya, kami juga sempat diguyur hujan saat berada di Phuket Town dan Bangkok. Senang? Tentu saja. Hujan bagaimana pun membawa suasana romantis dan menenangkan hati saya.

Mengingat kami diharuskan berkumpul di travel agent jam 07.45, kami mandi supercepat. Tapi sama seperti saat tur Phi Phi Islands lalu, kami lagi-lagi terlalu awal datang di tempat. Hehe.. Bus yang menjemput kami baru tiba di taman District 1 pukul 08.25. Dengan semangat 45, kami pun segera naik ke bus warna kuning ngejreng itu. Mekong River, here we come!

Selama perjalanan, kami diceritakan sederet kisah masa lalu Vietnam oleh pemandu wisata kami yang bernama Pak Tung a.k.a Mr.Drum. Umurnya si bapak memang sudah 60-an. Tapi istrinya masih umur 30-an gitu, katanya. Nggak heran sih, karena dari gayanya sudah terlihat kalau dia kakek genit yang hobi menggoda perempuan-perempuan muda.

Pak Tung yang supercentil itu bahkan membual bahwa banyak cewek muda di Mekong dan Cu Chi, kampung halamannya, yang naksir sama dia. Parahnya, Pak Tung juga mengaku-aku kalau dia nolak semua cewek itu. Hahaha.. "You all girls looks very lovely but i can't love you all," ujarnya. "Yeah, I don't have big money, but I have big love."

Selama perjalanan menuju dermaga, Pak Tung yang supercerewet bercerita bagaimana Vietnam belajar banyak pada Prancis dan Cina yang pernah menjajah mereka. Ia juga dengan bangganya bercerita bagaimana tentara Viet bisa sukses mengusir Prancis dan Amerika Serikat, dan bagaimana negaranya kini sedang tumbuh dan berkembang dengan hasil alamnya.

Sesaat setelah Pak Tung menyanyikan lagu berjudul "Oneday in Mekong Delta" yang culun sekali, bus berhenti di sebuah pusat kerajinan kulit telur bebek bernama "Xi Nghiep Sx Hang Thucong My Nghe". Panjang sekali ya, nama tokonya. Nggak tahu saya apa artinya. Yah itulah Vietnam, hehe.. Bahkan toilet saja di Bahasa Vietnam namanya terdiri dari empat suku kata.

Kerajinan kulit telur bebek
Di toko itu, kami disuguhi cara mengkreasikan kulit telur bebek menjadi aneka macam benda yang cantik dan tampak antik. Sayang sekali harganya mahal. Karena duit terbatas, saya, Wita, dan Novi pun hanya foto-foto di dalamnya. Saat akan keluar toko, baru deh kami tahu, kalau pegawai-pegawai pabrik tersebut adalah orang-orang berkebutuhan khusus. Ha, mungkin itu alasannya harga barang di situ sangat mahal!

Setelah 20 menit berada di toko, bus lalu membawa kami ke dermaga di kota My Tho. Kami tiba di sana sekitar pukul 10.45. Di dermaga itu kami lalu diantar menuju perahu besar yang muat menampung lebih dari 20 orang rombongan. Dan yang paling kami ingat, di sinilah kami bertiga sadar ada dua orang bule Amrik yang sungguh-sungguh manis dan tampan! Ya Tuhan, saya, Novi, dan Wita, sampai ngiler dibuatnya..

Sumpah deh, dua cowok bule yang usianya sepantaran kami itu benar-benar menyegarkan mata. Kami bertiga sampai nggak berhenti cekikikan genit setiap membahas keduanya, dan beberapa kali curi-curi ambil foto. Kayaknya sih kedua bule itu sadar kalau kami kecengin. Tapi ya sudahlah, nggak peduli juga kami, kalau kedua cowok tampan itu sadar kami fotoin melulu. Hehe

Saya sampai bilang sama Novi, jangan-jangan kedua cowok itu adalah bagian dari paket One Day in Mekong Delta yang kami pesan. Soalnya keberadaan cowok itu benar-benar membuat perjalanan hari ini begitu menyenangkan. Hihihi.. Entahlah kalau nggak ada keduanya. Sepertinya saya, Novi, dan Wita, nggak bakal seceria hari ini :)

Si tampan yang duduk hadap sini paling kiri, tuh..
Paket tur Delta Mekong membawa kami ke sebuah kampung di Ben Tre, untuk melihat pengolahan kelapa. Oleh penduduk lokal, kelapa diolah menjadi bermacam-macam produk, seperti permen dan sabun mandi. Kesan pertama kami begitu menginjakkan kaki di gubuk Ben Tre adalah, tempat ini sangat mirip Indonesia! Novi bahkan bilang daerah itu mirip rumah mbahnya di Yogyakarta. Wkwkwk

Sepanjang perjalanan ke empat pulau; Unicorn Island, Toto Island, Phoenix Island, dan Dragon Island, kami pun nggak henti-hentinya tertawa. Selain karena membahas dua bule tampan, kami juga sangat geli dengan isi tur kami yang seolah-olah membawa kami ke Kalimantan. Bagaimana tidak, kalau pemandangan yang kami dapat adalah rimbun pohon pisang, sungai coklat, serta kano yang dikayuh perempuan bertopi caping.

Saya, Wita, dan Novi, sampai gemas sendiri melihat tumpukan pemandangan itu. "Ya ampun, kita tuh punya semua ini, tahu nggak. Sungai, pohon pisang, pohon kelapa, kano-kano.. Tapi nggak ada turis yang tahu. Udah gitu kalau pun ada yang tahu, pasti mereka agak pikir-pikir mau ke Kalimantan karena biayanya mahal.." saya mengomel ke Novi saat berada di Ben Tre.

Setelah mencicipi permen kelapa, kami diajak ke tempat makan siang. Untuk menuju TKP, kami diantar andong yang satu keretanya berisi lima orang. Kami satu andong dengan dua ibu asal Brunei Darussalam, yang mengaku sudah keliling ke sejumlah negara Asia Tenggara. Oh ya, kata si ibu, dia membayar USD 13 untuk tur ini. Wah mahal.. Padahal kami hanya membayar USD 8! Bangga deh!

Saat makan siang, kami satu meja dengan pasangan yang sepertinya baru menikah. Awalnya kami mengira dia orang Filipina atau Singapura, karena wajah keduanya oriental. Eh ternyata orang Bandung, hehe.. Lagi-lagi kami merasa bangga dengan kemampuan menawar kami, karena pasangan itu membayar USD 10 di agen yang sama. Ah senang sekali..

Oleh Pak Tung, kami kemudian diberi kesempatan 20 menit untuk eksplorasi kampung Ben Tre dengan sepeda. Saya awalnya nggak kebagian sepeda. Tapi akhirnya ada turis Cina yang sepertinya nggak tega lihat saya jalan kaki, sementara Wita dan Novi sudah melaju dengan sepeda masing-masing. Tanpa malu saya pun memakai sepedanya. Yuhuuuuu! Mari menggowes!

Gubuk tempat kami makan siang
Kelar sepedaan, kami menyusul rombongan. Di sana sejumlah kano kecil yang akan membawa kami ke Unicorn Island sudah menunggu. Sayang sekali kami nggak sekano dengan dua bule tampan. Hehe.. Tak apalah. Toh di TKP masih bisa bertemu lagi. Di pulau berikutnya, kami disuguhi teh madu panas dan keripik pisang sebagai cemilan. Kami juga mendapat suguhan buah gratis sembari mendengarkan musik tradisional negara ini.

Cemilan kering dari pisang, kacang, dan jahe
Cewek penyanyi ini sukses bikin bule cowok nggak kedip
Oneday in Mekong Delta
Nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Kami pun segera masuk ke perahu pertama yang membawa kami merapat ke Ben Tre. Lelah sekali, Tuhan.. Tapi hari ini entah kenapa banyak hal yang membuat kami tertawa ngakak. Mulai dari si pria tampan, kondisi Viet yang mirip Indonesia (kalau saya pasang foto saya di negara ini, pasti banyak yang nggak percaya saya sedang di Vietnam!), dan "kisah cinta" Wita dengan Pak Tung. Hihihi

Soal yang terakhir, kami bertiga sampai ngakak berat di dalam kamar penginapan. Berawal saat Wita menemukan sebuah stiker bertuliskan Tung, yang di belakangnya ada sederet nomer telepon. Oh My God! Si kakek itu ngasih nomer telepon ke Roswita Oktavianti! Hahahaha.. Saya dan Novi pun nggak henti-hentinya meledek Wita.

Wita dan Pak Tung, hihihihi
Dan setelah diurutin sejak awal, memang benar si Wita tampak mencuri perhatian si kakek. Bayangin aja, Pak Tung itu memilih nyebelahin Wita saat makan siang, dibanding duduk di sebelah turis lain. Dia juga memilih satu perahu dengan Wita, dibanding masuk dua rombongan perahu lain. Pak Tung juga mau-mau aja nyanyi ulang lagu "Oneday in Mekong Delta" hanya karena Wita yang minta. Dan yang terparah tentu saja ulah genitnya meninggalkan nomer telepon ke Wita! Hihihi

Kami selesai tur dan tiba kembali di District 1 sekitar pukul 17.00. Mumpung masih sore, kami pun memaksakan diri jalan ke Ben Tanh Market untuk beli oleh-oleh. Ah, saya nggak suka belanja di sini. Mending di MBK Bangkok, deh. Parah banget penjual Pasar Ben Tanh kalau memberi harga! Bikin malas lah pokoknya. Barang yang seharga VND 70 ribu saja untuk harga awalnya ditawarkan VND 230 ribu. Haduh..

Selesai belanja, kami bertiga terduduk lemas di taman kota. Dompet kami lirik, dan kami sama-sama tertawa. Ya Tuhan, kami sudah nggak punya duit lagi. Tapi justru itulah yang membuat kami merasa ingin tertawa sekeras-kerasnya. Kocek tipis itu juga yang kemudian membuat kami mengurungkan niat makan enak di resto kemarin malam.

Untung saja kami menemukan gerobak makanan yang menjual mie seharga VND 20 ribu. Entah karena memang mienya enak atau saya yang kelaparan berat, mie putih dengan campuran daging sapi itu terasa sangat nikmat di lidah saya. Alhamdulillah.. Mari makan!

Pengeluaran hari ke-6 (dalam rupiah):
1. Sarapan roti Rp 7500
2. Fee ke sopir kano Rp 2500
3. Sewa kamar mandi Rp 1000
4. Makan malam Rp 10 ribu
5. Minum Rp 4 ribu

Total pengeluaran hari ke-6: Rp 25 ribu

No comments:

Post a Comment