Wednesday, July 31, 2013

Mimpi

Tebet, 9 Maret 2013.

Entah bagaimana ceritanya, saya dan pacar malam itu membicarakan pernikahan.  Ah ya, saya ingat. Dia semula cerita, kalau di gengnya hanya dua cowok termasuk dirinya yang belum menikah. Tanpa saya tanya, dia bilang alasannya.

“Kalau suatu saat saya menikah, saya mesti sudah siap secara finansial. Menurut saya itu lebih penting daripada cinta. Kedua, saya mesti yakin perempuan yang saya nikahi adalah orang yang cocok dengan saya, yang bisa membuat saya nyaman,” kata dia.

Saya suka jawabannya. “Aku setuju dengan film Ira & Abby. Menikah itu kontrak kita dengan orang yang kita nikahi,” saya menambahkan.

“Menurut saya tidak sesederhana itu. Saat saya nanti menikah, itu berarti saya membuat janji dengan Tuhan. Karena menikah itu bagian dari ritual agama,” ujarnya.

Dan pembicaraan berlanjut mengupas pernikahan orang-orang di sekeliling kami. Ada yang bahagia, ada yang pura-pura bahagia, ada pula yang sudah berusaha tapi tidak bisa bahagia.

Btw, beberapa hari lalu saya bermimpi menikah dengannya. Dalam mimpi itu, banyak sekali yang hadir di pernikahan kami. Resepsinya bernuansa putih-hijau. Ah entahlah mengapa tak ada warna pink, namanya juga mimpi. Yang lucu, dalam mimpi itu saya telat datang ke pernikahan saya sendiri. Walhasil, si pacar pun dalam mimpi mengomeli saya (mukanya sumpah galak, walau tetap ganteng).

Bangun tidur, saya keringetan. Tak tahu juga apa karena saya terlalu tegang menikah. Padahal mimpi doang, ya. Hahahahaha.. Tapi yang saya ingat, saat bangun tidur itu saya tersenyum malu-malu enggak jelas. Saya tegang, tapi saya senang. Untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan.

Menikah mungkin akan jadi hal yang menyenangkan jika dilakukan dalam kondisi yang menyenangkan. Kondisi yang menyenangkan adalah saat kita menikah bukan karena usia, bukan karena dipaksa keluarga, bukan pula karena takut digunjingkan tetangga.

Yap, menikah akan jadi keputusan yang menyenangkan jika kita memang siap menjalaninya, dengan orang spesial yang memang kita sayang dengan sukarela.

Selesai ngelamun enggak jelas soal mimpi saya, saya pun melirik si pacar. Tak ada angin tak ada hujan, saya jadi senyum-senyum sendiri melihatnya. Saya hanya merasa saya sangat menyayangi lelaki superjahil dan menjengkelkan itu.

Saya baru saja mau bilang makasih sudah membuat saya tidak takut membayangkan pernikahan. Sampai akhirnya dia menangkap mata saya yang mulai berkantung. “Kamu udah ngantuk? Pulang yuk?”

Saya mengangguk dan mulai beranjak dari kursi. Entah kenapa, saya membayangkan pulang adalah kembali ke rumah kami. Rumah saya dan dia.

Ah kampret memang mimpi saya.

PS. Saya lupa kenapa waktu itu tak langsung mempostingnya.

No comments:

Post a Comment