Dialog Roti Tawar

"Perempuan tuh begitu. Teriak soal emansipasi tapi sering memposisikan diri sebagai korban," katanya, siang tadi.
"Apa hubungannya emansipasi dengan posisi korban?" tanya saya, sambil mengoleskan mentega di selembar roti tawar kupas untuknya.
"Di kasus Sitok misalnya, itu sebenernya sih suka sama suka. Tapi kenapa sekarang si perempuan merasa sebagai korban?"
"Bisa jadi dia memang korban. Jangan menyalahkan si perempuan, kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mana tahu kita kalau sebenarnya Sitok memaksanya ngeseks?"
"Ah enggak itu. Dia merasa saja sebagai korban, padahal sebenarnya suka sama suka. Perempuannya jatuh cinta beneran"
"Kamu ngeselin."
"Lah memang iya. Bisa disebut korban kalau ada pemaksaan. Ini kan enggak. Suka sama suka, atau sebelumnya enggak suka tapi akhirnya jatuh cinta. Kayak kamu, kan? Dulu enggak suka sama saya, hehe.."

Saya memonyongkan bibir, lalu menaburkan sedikit gula pasir di atas roti tawar beroles mentega. 
"Seks tidak sesederhana itu, Kak. Ada relasi kuasa, dan dalam kasus ini batasan antara 'superior-inferior' dengan yang kamu sebut suka sama sama suka itu tipis."

Dia menyulut rokok. Tersenyum menatap saya. "Wajar kan kalau seniman seperti itu? Banyak pacarnya. Wajar kalau seniman suka merayu. Masalah si perempuannya terkena rayuan atau enggak, itu urusan si perempuan."
"Kamu sinting. Mana bisa kayak gitu dibilang wajar. Wajar dari mananya? Orang yang kamu bilang seniman itu ada yang pakai label profesinya buat menundukkan pihak lain dalam hal ini perempuan, buat bisa ngeseks sana-sini. Manjain tititnya."
"Trus salah dia apa?"

Ah.


Comments

  1. duh, mengkhawatirkan sekali pola pikir pacarmu ini.

    ReplyDelete
  2. Kasus Sitok adalah semacam jebakan moral, sekaligus menguji sejauh mana kemunafikan orang-orang yang mengatasnamakan dirinya wartawan, penulis, atau seniman. Profesi bukan justifikasi.

    Omong-omong, tiap inget relasi (tak) kuasa, jadi kangen seseorang *mari katakan "eaaaa" bersama-sama* :D

    ReplyDelete

Post a Comment