Jumat, 21 September 2012

Menengok Jejak Kekejaman Pol Pot di Killing Field

Killing Field's Monument

Bulu kuduk saya sontak berdiri begitu memasuki area Killing Field, di desa Choeung Ek, Kamboja. Sungguh, Killing Field adalah destinasi pembuka road trip yang sukses merampas senyum saya selama berada di dalamnya. Bahkan kaki rasanya bergetar setiap melangkah di daerah yang terletak sekitar 15 km dari Phnom Penh itu.

Killing Field di Choeung Ek adalah satu dari dua puluhan ladang pembantaian yang dibuat rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot, pada 1975-1979. Lebih dari sejuta warga Kamboja diberangus, karena dianggap membangkang dan tidak sesuai dengan cita-cita negara agraris yang diidamkan rezim Khmer Merah.

Pada masa itu, jutaan warga Kamboja berkalang nyawa lewat sejumlah cara. Dengan dipukuli hingga mati, ditembak, maupun dipaksa kerja rodi tanpa diberi makan sampai akhirnya mati kelaparan. Cara menembak jarang dilakukan karena mahalnya harga peluru. Sadisnya, bayi pun tak luput dari siksaan pengikut Pol Pot.


Many people killed under that tree
Gloomy Killing Field

Saking bengisnya, masa pemerintahan Pol Pot disebut sebagai "Year Zero". Sebutan yang pantas, karena kaum intelektual, seniman, dan warga yang tak segaris dengan idealisme Pol Pot, dihabisi. Lima dusun kaum Muslim Cham di Kompong Xiem juga dihancurkan, dan hanya menyisakan empat orang hidup dari 20 ribu penduduknya. Bahkan sebagian bangunan candi Angkor Wat di Siem Reap pun tak luput dari hajaran rezim Khmer Merah.

Begitu memasuki Killing Field, saya langsung disuguhi tugu penghormatan terhadap para korban. Jelas bukan sembarang tugu, karena di dalamnya tersimpan 8.995 tengkorak manusia yang dibantai di tempat itu. Tengkorak-tengkorak itu seolah menjadi bukti nyata bagaimana puluhan tahun lalu, jutaan warga Kamboja dibunuh dengan keji di sana.

Berjalan di area Killing Field yang penuh pohon rindang akan terasa sejuk seandainya tidak membaca papan demi papan yang didirikan di sejumlah titik. Sejumlah papan itu menceritakan sejarah pilu yang terjadi puluhan tahun lalu di sana. Sungguh membuat lemas otot kaki saya. Saya pun membayangkan bagaimana para korban saat itu menjerit memohon belas kasih agar tidak dibunuh.




Killing Field tak susah dijangkau dari ibukota Kamboja. Dari hotel saya yang terletak di Riverside, Phnom Penh, saya membayar jasa tuk-tuk USD 20 untuk tiga orang. Terkesan mahal, karena Sutyi, sang sopir tuktuk, kami minta mengantarkan kami ke empat destinasi lainnya. Adapun biaya masuk Killing Field dipatok USD 2.

Di perjalanan, saya pun membayangkan kengerian yang dirasakan para warga Kamboja saat diangkut truk ke Killing Field pada malam hari. Entah derita macam apa yang mereka rasakan saat hendak menjemput ajal dalam hitungan beberapa jam saja. Saya yang sekadar menjejak bekasnya saja mesti sekuat tenaga menjalani perjalanannya.

Kolam sederhana ini sedikit jadi pelipur lara di Killing Field

Tulisan lainnya soal Phnom Penh:
Semalam di Phnom Penh, Kota Sejuta Bir
Membuang Dollar Lusuh di Russian Market
Royal Palace, Istana Raja Kamboja yang Nyentrik
Akhirnya... Road Trip 6 Kota dalam 7 Hari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar